Rabu, 27 Juni 2012

PEMAHAMAN SILA PERSATUAN DENGAN SIKAP NASIONALISME


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
             Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan adalah mempersiapkan  warga yang memiliki komitmen kuat dan untuk mempertahankan NKRI, memberikan kemampuan sebagai warga Negara berlandaskan PKn, dan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak bermartabat serta peradaban bangsa.     
              Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan bagi siswa menjadi mata pelajaran yang membosankan dan belum tepat sasaran. Dalam artian hasil pembelajaran PKn belum tercapai dengan baik.  Hal ini dapat dilihat dari sikap beberapa siswa yang belum sesuai dengan tujuan pembelajaran PKn yaitu adanya perubahan sikap menjadi lebih baik, dan bertanggung jawab.
              Sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak akan lepas dari tudingan masyarakat jika ada kenakalan remaja atau tawuran antar siswa. Kemerosotan moral siswa yang kerap terjadi seakan-akan merupakan kegagalan lembaga pendidikan untuk membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Terlebih lagi guru agama dan guru PPKn, selalu menjadi sasaran empuk yang dituduh gagal membentuk moral siswa. Sebenarnya penanaman moral sangat terkait dengan semua guru, orang tua, dan masyarakat.
  Kalau dikaji secara detail, penyebab kemerosotan moral pada diri anak bukan hanya karena adanya penurunan akhlak dan kurangnya pemahaman terhadap nilai agama. Penyebab kemerosotan moral sering terjadi karena kurangnya perhatian orang tua sehingga anak mesikap  terabaikan. Penyebab lain yang besar peranannya terhadap kemerosotan moral siswa adalah menurunnya sikap  nasionalisme dalam diri siswa.
Dengan sikap  nasionalisme yang tinggi, anak akan lebih mencintai dirinya sendiri sehingga kecil kemungkinannya mereka akan menjerumuskan dirinya untuk hal yang tidak berguna. Terhadap sesama teman, mereka akan mesikap  senasib seperjuangan sebagai bangsa Indonesia yang utuh. 
Pada zaman perjuangan kemerdekaan, bangsa Indonesia terbukti berhasil mencapai kemerdekaan karena adanya sikap  nasionalime, sikap  persatuan dan kesatuan yang kuat. Perbedaan suku, agama dan daerah asal tidak pernah dipersoalkan. Satu hal yang mereka sikap kan saat itu yaitu sikap  cinta terhadap tanah air dan sikap  persaudaraan di antara sesama bangsa Indonesia. Alhasil, kemerdekaan di tangan kita.
Kenakalan remaja dan tawuran terjadi di mana-mana. Bergetarnya hati tatkala mendengar lagu kebangsaan dikumandangkan tak lagi disikap kan anak zaman sekarang. Apalagi sikap  cinta pada diri sendiri mulai pupus dengan mengkonsumsi obat-obat terlarang, bahkan tak perduli walaupun dengan menyakiti fisik sendiri. Terlebih lagi, kehormatan diri dan keluarga seakan bukan masalah yang harus dipertaruhkan.  Dengan kata lain Indonesia tidak hanya mengalami krisis ekonomi saja , tetapi juga mengalami krisis moral.
Membangun moral dengan nasionalisme harus ditanamkan sejak dini, terutama pada siswa usia Sekolah Dasar (SD). Sebab di SD merupakan basic pendidikan, sedangkan moral merupakan landasan utama dalam melakukan seluruh aktivitas dalam kehidupan. Pergaulan siswa SD belum begitu komplek dibanding siswa SMP atau SMA. Oleh karena itu jika penanaman moral dimulai sejak SD akan lebih mengakar dan tertanam dalam diri siswa.
Memang tidaklah adil jika kemerosotan moral kita timpakan sepenuhnya pada pribadi siswa. Mereka merupakan korban kelalaian orang dewasa yang selalu berkonsentrasi pada urusan duniawi yang tiada habis-habisnya. Padahal orang dewasa atau generasi tua sering dijadikan teladan oleh anak-anak. Jika tokoh teladannya sibuk dengan dirinya sendiri, akibatnya mereka kehilangan tokoh panutan dan berbuat semau gue. Setiap anak membutuhkan perhatian, sapaan, perhargaan secara positif dan cinta tanpa syarat untuk mengembangkan dirinya yang berharga.
Tetapi sekarang bukan saatnya lagi saling menyalahkan, namun bagaimana cara membenahi dan mengurangi kemerosotan moral. Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa mereka adalah aset bangsa yang tak ternilai. Mereka adalah calon pemikir bangsa yang harus dipersiapkan untuk membawa bangsa dan negara ini menuju era keemasan.
Juga bukan salah guru PPKn, IPS, atau agama sebagai guru yang diberi tugas menyampaikan materi seputar akhlakulkarimah dan sejarah perjuangan bangsa. Pembentukan moral siswa melalui penanaman semangat nasionalisme merupakan tanggung jawab semua kalangan masyarakat. Tidak hanya di bangku sekolah sebagai lembaga pendidikan, penanaman sikap  nasionalisme dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal mereka. Misalnya, sering kali memperdengarkan lagu-lagu nasional di rumah atau lingkungan masyarakat dapat mempertebal sikap  nasionalisme. Menjamurnya lagu-lagu anak muda perlu diimbangi dengan pemunculan kembali lagu nasional. Sehingga tidak terjadi, seorang anak lebih hafal lagu dari penyanyi favoritnya dari pada lagu nasional bangsa ini.
Dalam upaya menumbuhkan sikap  nasionalisme pada siswa, harus juga dibarengi dengan upaya memahami Pancasila yang mengandung nilai – nilai luhur Bangsa Indonesia.  Pancasila yang merupakan dasar dan pedoman hidup Bangsa Indonesia mengandung nilai – nilai nasionalisme yang harus terus ditanamkan pada diri siswa sebagai generasi penerus bangsa.  Dengan memahami Pancasila baik sejarahnya, maupun maknanya maka akan tumbuh sikap  nasionalisme dalam dirinya. 
Jika generasi muda, khususnya siswa mengetahui bahwa bahwa betapa beratnya perjuangan untuk mencapai kemerdekaan yang sekarang mereka nikmati, tentu mereka akan menghargai arti kemerdekaan dan tidak menyia-nyiakan kemerdekaan dengan kegiatan yang tidak berarti. Nasionalisme dapat menyadarkan generasi muda bahwa terbentuknya Negara Indonesia tidak terjadi tiba-tiba, melainkan melalui tahapan yang panjang. Mereka harus tahu bahwa kemerdekaan ini telah dibayar dengan tetes darah para pahlawan. Mereka harus sadar bahwa di tangan merekalah masa depan bangsa dan negara.
Pancasila yang lahir dari perjuangan panjang Bangsa Indonesia, saat ini lebih sering hanya menjadi sekedar wacana.  Yang hanya menjadi bacaan rutin setiap upacara bendera yang biasanya dilakukan setiap hari Senin di sekolah mau pun di instansi – instansi pemerintahan.  Dan ironisnya sebagai warga Negara Indonesia sendiri, bahkan ada yang tidak hafal isi Pancasila dari sila1 sampai 5.    Bangsa yang baik adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya.  Seperti yang dikutip di atas bahwa Pancasila merupakan hasil perjuangan panjang Bangsa Indonesia.  Yang merupakan cita – cita dan tujuan Bangsa Indonesia, yang mengandung nilai – nilai luhur bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa, kita harus kerja keras untuk mengangkat Pancasila ini.  Sebab, suatu bangsa tidak akan mungkin bisa maju seperti bangsa – bangsa lain, kalau dirinya mengadopsi begitu saja nilai – nilai bangsa lain.  Kita harus bangkit dan hidup dengan nilai – nilai bangsa sendiri.  Dengan itulah kita akan dihargai oleh bangsa lain.
Memahami Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari -  hari adalah penting dan menjadi tanggung jawab kita semua sebagai warga Negara Indonesia.  Dan tidak kalah pentingnya bagi para pelajar sebagai generasi muda yang akan meneruskan bangsa ini untuk mencintai sejarah dan meneruskan cita – cita luhur Bangsa Indonesia.
Pelajar sebagai generasi muda penerus bangsa dituntut untuk memiliki sikap  Nasionalisme yakni sikap  cinta tanah air.  Bangga menjadi Bangsa Indonesia, bangga menjadi pemuda Indonesia yang akan meneruskan negeri ini.  Sikap  Nasionalisme ini harus terus dipupuk agar tidak luntur.  Saat ini di mana pengaruh budaya asing begitu luas masuk ke negeri kita, ini menuntut peran orang tua dan guru khususnya agar para anak didik kita tetap mencintai dan menjunjung tinggi budaya negerinya yakni budaya Indonesia. Arus globalisasi dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku sosial kultural masyarakat kita.  Kemajuan ilmu pengetahuan menyebabkan  pesatnya perkembangan teknologi.  Di satu sisi pesatnya  perkembangan teknologi memberikan dampak positif bagi manusia, karna mempermudah manusia melakukan aktifitas, tetapi di sisi lain perkembangan  ini dapat memberikan dampak buruk bagi anak bangsa ini.  Jika tidak diarahkan / dibimbing, mereka akan menelan semua budaya luar yang masuk  ke dalam negeri.  Yang pada , akhirnya akan mengikis sikap  nasionalisme dalam dirinya.  Mereka lebih bangga dan lebih mencintai produk buatan luar negeri dibandingkan buatan dalam negeri. 
Berdasarkan kenyataan di atas, maka diperlukan suatu usaha dan upaya yang simultan agar anak didik kita tidak mengalami kondisi berprilaku menyimpang dari norma – norma.  Usaha yang paling mendasar adalah bagaimana meningkatkan peran guru dalam membina dan mendidik siswa, agar mereka mampu memahami dengan baik nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila, sehingga mereka mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari – hari.     Siswa yang memahami makna persatuan akan lebih mencintai bangsanya karna memahami bahwa kemerdekaan bangsa ini diperoleh berkat rahmat Tuhan dan berkat bersatunya para pemuda pada saat itu tanpa memandang perbedaan suku, golongan.
Kenyataan yang ditemukan di lapangan khususnya di SDN Cimahpar 2 Kota Bogor, mengenai persatuan belum sepenuhnya siswa memahami tentang makna persatuan secara menyeluruh.  Dapat dilihat dan dengan masih adanya siswa yang berselisih bahkan memperolok teman yang berbeda suku dengannya, merusak fasilitas sekolah dan  kurangnya empati terhadap  korban - korban bencana alam yang terjadi di negeri ini. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kurangnya pemahaman siswa tentang makna persatuan itu sendiri.
Setelah kegiatan penelitian di SDN Cimahpar 2 Kota Bogor, diharapkan pemahaman siswa khususnya tentang makna persatuan dapat terpenuhi dengan dimulainya memperbaiki sikap diri sendiri, antara lain menghargai dan menyayangi teman walau pun berbeda suku dengannya, bersimpati memberikan bantuan pada saudara setanah air yang terkena musibah dan juga mencetak prestasi.
Persatuan mengandung makna satu.  Walau pun berbeda – beda suku, agama, warna kulit, bahasa, kita tetap satu sebagai satu bangsa yaitu Bangsa Indonesia.  Dalam kehidupan nyata atau keseharian, kita masih menemukan dan mesikap kan betapa masih banyak anak bangsa ini yang berperilaku tidak santun, bertindak anarkis yang justru memecah persatuan.    
Sikap  persatuan sangat penting untuk menumbuhkan sikap  nasionalisme siswa agar dapat lebih mencintai bangsanya.  Dengan mencintai bangsanya, tentunya mereka akan lebih mencintai dan menghargai dirinya dan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk negerinya, negeri Indonesia.
Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena persamaan nasib.  Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara.
Dampak positif apabila pemahaman persatuan tinggi atau cukup besar maka pastinya akan berhubungan dengan sikap  nasionalisme siswa yang kuat di sekolah, sehingga perlu adanya pemahaman persatuan yang mendasar sehingga benar – benar menjadikan tingginya nasionalisme siswa.
Adanya perbedaan yang cukup besar antara pemahaman persatuan dengan nasionalisme siswa di SDN Cimahpar 2 Kota Bogor, harapan dari semua pihak yaitu orang tua, guru, serta masyarakat diharapkan pemahaman makna persatuan dengan nasionalisme siswa baik dan dapat diandalkan namun sebaliknya apa yang diharapkan belum memenuhi standar ya ng baik.
Ada  pun permasalahan yang timbul di SDN Cimahpar 2 Kota Bogor adalah sebagai berikut :
1.      Sikap  persatuan masih jauh dari yang diharapkan terlihat dari masih adanya siswa yang memperolok – olok teman yang berbeda suku dengannya bahkan berselisih paham diantara teman yang ada.
2.      Merusak fasilitas sekolah  dengan mencorat coret bangku sekolah atau kursi dengan tulisan siswa.
3.      Kurangnya simpati kepada teman yang terkena musibah serta hampir hilangnya sikap  nasionalisme.
4.      Mesikap  bangga menggunakan produk buatan luar dibandingkan buatan dalam negeri
5.      Adanya beberapa siswa yang enggan mengikuti upacara bendera yang dilakukan setiap hari senin oleh sekolah.
                 Mengingat pentingnya Nasionalisme khususnya bagi para pelajar  penerus bangsa, maka penulis tertarik untuk meneeliti sejauh mana pemahaman siswa tentang Pancasila dan apakah ada hubungannya dengan sikap  nasionalisme yang harus dimiliki oleh siswa, yang tertuang dalam judul “ Hubungan antara pemahaman siswa tentang sila Persatuan Indonesia dengan sikap  Nasionalisme di SDN Cimahpar 2 Kota Bogor.

B.  Identifikasi Masalah
              Berdasarkan latar belakang di atas, penulis menyimpulkan identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :
  1. Apakah pemahaman siswa tentang sila Persatuan Indonesia sudah sesuai dengan yang diharapkan ?
  2. Faktor- faktor apakah  yang  berhubungan selain dari pemahaman siswa tentang sila persatuan?
  3. Apakah sikap  nasionalisme yang ada di sekolah sudah sesuai dengan apa yang diharapkan?
  4. Apakah yang harus dilakukan untuk memupuk sikap  nasionalisme pada diri siswa?
  5. Apakah yang menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap sila Persatuan dan kurangnya sikap  nasionalisme pada siswa?
  6. Apakah ada hubungan antara pemahaman siswa tentang sila persatuan Indonesia dengan sikap  nasionalisme di SDN Cimahpar 2 Kota Bogor

C.  Pembatasan Masalah
            Agar penelitian lebih terarah, terfokus dan tidak melebar ke mana-mana, maka berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, penelitian ini dibatasi pada  pemahaman siswa tentang  sila persatuan Indonesia dengan sikap  Nasionalisme di SDN Cimahpar 2  Kota Bogor.
    Pemahaman siswa tentang sila persatuan Indonesia adalah mengerti benar, dapat membedakan, paham,  dapat menganalisis, mengklasifikasikan,  respon berupa tulisan atau pendapat karena objek  yang ada serta mampu menempatkan  kepentingan  pribadi diatas  golongan, sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bersama,  mengembangkan sikap  cinta kepada tanah air dan bangsa Indonesia.
Sikap  Nasionalisme adalah satu respon yang tertutup atau berupa lisan, tulisan atau saran pendapat yang diungkapkan tentang kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki sikap  solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara.

D.  Perumusan Masalah
              Dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahannya yaitu   Adakah  hubungan antara pemahaman siswa tentang sila  Persatuan Indonesia dengan sikap  nasionalisme di SDN Cimahpar 2 Bogor

E. Kegunaan Penelitian
1.      Penulis sendiri, tentunya banyak sekali menambah wawasan dan manfaatnya, penelitian ini dalam rangka meningkatkan kemampuan meneliti dan membuat penulisan ilmiah.
2.      Bagi Sekolah dan Guru-guru SDN Cimahpar 2 Bogor yang diteliti, hasil penelitian ini diharapkan  hubungan antara pemahaman siswa tentang sila  Persatuan Indonesia dengan sikap  nasionalisme di SDN Cimahpar 2 Bogor.
3.      Bagi almamater STKIP Arrahmaniyah, hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai bahan indikator  untuk dosen guna meningkatkan mutu mengajarnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar