Sabtu, 30 Juni 2012

Latar Belakang Ekonomi Orang Tua dengan Motivasi Belajar


BAB I
PENDAHULUAN
      A.  Latar Belakang Masalah   
Di Indonesia pengaturan kehidupan bermasyarakat dengan bernegara diatur dalam pembangunan nasional yang merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan manusia, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional, yang merupakan bagian dari Pembukaan UUD 1945, yaitu “ melindungi segenap bangsa  dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”[1]
Hubungan antara latar belakang  ekonomi orang tua dengan  motivasi belajar siswa dalam menunjang tujuan nasional tersebut yaitu mencerdasakan kehidupan bangsa maka pemerintah membuat system pendidikan nasional dan tujuan Pendidikan  Nasional adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Memiliki anak yang berprestasi tentu menjadi impian setiap orangtua. Orangtua mana yang tidak bangga jika anak mereka menjadi juara disekolahnya, apalagi kalau sampai menjadi juara olimpiade fisika, wah…bisa-bisa pesta tujuh hari tujuh malam. Harkat dan martabat keluargapun menjadi terangkat karenanya. Oleh karena itu, banyak orangtua yang mati-matian mencarikan sekolah favorit buat anaknya, belum lagi ditambah les ini dan itu bagi yang mampu secara ekonomi. Semuanya itu tentu sah-sah saja, namun sayangnya banyak orangtua yang kurang menyadari bahwa mendidik anak bukan hanya agar mereka menjadi cerdas secara kognisi (intelektual), namun juga cerdas secara emosi dan spiritual (rohani).
Banyak anak yang meskipun cerdas, namun kurang bisa berelasi dengan baik dengan teman-teman dan lingkungannya. Mereka menjadi anak yang egois, kurang peduli sesama, kurang sopan santun, sulit berempati, dan sebagainya. Bukan hanya itu, banyak anak-anak yang sebetulnya mempunyai potensi yang baik namun tidak berkembang, bahkan terjerumus kedalam kenakalan remaja, akibat tidak terpenuhinya kebutuhan emosi dari orangtua mereka. Mereka merasa orangtuanya hanya bisa menuntut, memerintah, memarahi, menyalahkan, tanpa pernah mau mendengar, memahami, mengerti, mendukung, apalagi memberikan solusi.
Maka dari itu seseorang harus menggali potensi dirinya di mulai dari sejak dini, dikarnakan pada masa kanak-kanak penanaman kepercayaan akan potensi yang dimiliki anak merupakan waktu yang paling cocok, sebab karakter anak pada saat itu masih labil dan lunak sehingga mudah diubah oleh orang tuanya menjadi karakter yang optimis akan berbagai hal yang dialami anak, rasa keoptimisan inilah yang memicu anak dalam menggali potensinya, jadi anak akan lebih mudah dalam menerima motvasi yang diberikan orang tuanya dan melalui motivasi itulah anak lebih optimis lagi dan bisa lebih mengembangkan maupu mengoptimalkan kecerdasannya dan itu semua tidak luput dari sentuhan orang tua yang menjadi penyokong dan pebimbing dalam kehidupan anak mereka.
Sebagaimana umumnya orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya agar masa depan anaknya kelak akan cerah seperti yang diharapkan orang tua tersebut, oleh karena itu beribu macam cara oleh orang tua siap dilakukan mulai dari mengontrol  kehidupan anaknya didalam dan diluar rumah dan juga dilingkungan sekolah. Ini semua menjadi kunci bagi orang tua dalam memback- up anaknya khususnya dalam belajar.
Penanaman  motivasi belajar pada anak harus dilakukan sejak dini agar lebih mantap dan menetap dalam diri anak. Namun, hendaknya orangtua tak hanya menekankan motivasi belajar untuk meraih prestasi dalam bidang akademik semata. "Jangan melihat kecerdasan anak dari ranking saja. Tapi, lihatlah bagaimana ia bersosialisasi, bagaimana kreativitasnya,  gerak tubuhnya dan lain-lain.
Keluarga mempunyai peranan dan tanggungjawab utama atas perawatan dan perlindungan anak sejak bayi hingga remaja. Pengenalan anak kepada kebudayaan, pendidikan, nilai dan norma-norma kehidupan bermasyarakat dimulai dalam lingkungan keluarga. Untuk perkembangan kepribadian anak-anak yang sempurna dan serasi, mereka harus tumbuh dalam lingkungan keluarga dalam suatu iklim kebahagiaan, penuh kasih sayang dan pengertian. Menurut Siti Partini “Keluarga adalah sekelompok manusia yang terdiri atas suami, istri, anak-anak   yang terikat atau didahului dengan perkawinan.”[2]
Pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan kodrati. Apalagi setelah anak lahir, pengenalan diantara orang tua dan anak-anaknya yang diliputi rasa cinta kasih, ketentraman dan kedamaian. Anak-anak akan berkembang kearah kedewasaan dengan wajar di dalam lingkungan keluarga segala sikap dan tingkah laku kedua orang tuanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak, karena ayah dan ibu merupakan pendidik dalam kehidupan yang nyata dan pertama sehingga sikap dan tingkah laku orang tua akan diamati oleh anak baik disengaja maupun tidak disengaja sebagai pengalaman bagi anak yang akan mempengaruhi pendidikan selanjutnya.
Maka, keluarga yang baik di dalamnya akan terjadi interaksi diantara para anggotanya.
Mendidik dalam arti luas yang merupakan tugas pokok sekolah adalah dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luas bagi siswa untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi dan lingkungannya disamping memberikan latihan mengenai : akhlak, dan kecerdasan seseorang. Disamping tugas pokok sekolah tersebut diatas, maka dapat dijelaskan pula tentang tujuan institusional  sebagai lembaga pendidikan formal tingkat atas, sesuai dengan fungsinya  dalam rangka keseluruhan pendidikan, yaitu   Menjadikan para siswa untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya, sebagai siswa yang berpancasila,  Memberikan bekal latar belakang  yang diperlukan bagi siswa-siswa yang akan melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi,  Memberikan bekal latar belakang  bagi siswa yang akan terjun ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikannya.
Pencapaian tujuan motivasi belajar oleh orang tua sesuai dengan fungsinya dalam rangka keseluruhan proses pendidika pada khususnya dalam salah satu tugas sekolah sebagai lembaga pendidikan formal pada umumnya tidaklah mudah. Disepanjang tahun, khususnya pada tahun ajaran baru, mutu pendidikan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan secara umum disegala jenjang pendidikan formal atau informal, sering dipermasalahkan oleh orang tua. Permasalahan ini seringkali dikaitankan dengan adanya kecenderungan merosotnya minat belajar dan prestasi belajar yang dicapai siswa.
Dengan demikian seseorang yang mempunyai perhatian dan hubungan yang baik ( bukan broken home ), cenderung mempunyai kesanggupan yang lebih besar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, memecahkan problem-problem yang dihadapi secara cepat dan tepat, termasuk problem-peoblem dalam rangka meraih prestasi yang optimal.  Konsep belajar cara revolusi akan efektif apabila anak mengalami pembebasan dalam menuangkan ide dan mengeksplorasi pikirannya. Belajar secara revolusioner adalah menjungkir-balikkan keyakinan yang telah membelenggu pikiran manusia tentang belajar yang harus di dalam kelas dan mendengarkan keterangan yang diberikan oleh guru. Belajar revolusioner memberikan ruang kepada setiap anak untuk belajar secara kreatif sesuai dengan latar belakang  yang dimilikinya.  Untuk membantu belajar revolusioner, metode emasipatoris sangat cocok menentukan tindakan dan fikiran yang diyakininya.
Guru berperan sebagai fasilitator dan teman berdiskusi secara sepadan tanpa menakutkan bagi anak didik. Seluruh alam menjadi media pembelajaran efektif dengan menjadikan dunia sebagai kelas. Dengan demikian akan mampu menciptakan kreasi baru setiap saat. Modifikasi dari hal-hal yang lama adalah mutlak diperankan oleh anak untuk terus memodifikasi karya-karya baru,  namun barubah sesuai dengan latar belakang  anak yang berbeda-beda. Setiap manusia punya keunikan untuk menentukan kapan dan berapa lama ia belajar. Bagi usia anak-anak belajar dengan cara bermain sungguh mengasyikkan. Mereka akan kreatif dengan latihan-latihan yang tidak pernah gagal.
Mengarahkan perhatian sangat penting bukan tidak mungkin dalam perjalanan mengajar murid kehilangan konsentrasi karena suasana kelas yang kacau, gaduh, tidak terarah.  Guru membangkitkan ingatan dari materi yang telah diajarkan,dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, serta memberi penghargaan pada siswa yang bisa menjawap pertanyaan dengan pujian, sehingga siswa termotivasi untuk belajar lebih lanjut,juga hendaknya guru membimbing, membantu, memberi dorongan, semangat, perhatian, dan kasih sayang.  
Pembelajaran kreatif adalah dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan, motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi Intrinsik  jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri,  Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Sedangkan  harapannya adalah semua pihak meninginkan adanya latar belakang  ekonomi orang tua terhadap motivasi belajar anak  di SDN Empang 3  Kota Bogor yang kuat sehingga adanya prestasi yang menonjol atau dapat diakui oleh semua pihak oleh karena itu penulis mencoba mengambil judul Hubungan anatara  latar belakang  ekonomi orang tua dengan  motivasi belajar siswa di SDN Empang 3 Kota Bogor

  B.      Identifikasi Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut dibawah ini :
1. Apakah  latar belakang  ekonomi orang tua sudah mencukupi sehingga siswa  dapat layak dalam melakukan  pembelajaran?
2. Apakah motivasi belajar siswa  sudah cukup kuat dengan adanya pengaruh atau dorongan dari latar belakang  ekonomi orang tua ?
3.  Apakah  Hubungan antara  latar belakang  ekonomi orang tua dengan motivasi belajar anak di SDN Empang 3  Kota Bogor ?  

   C.     Pembatasan Masalah
            Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas maka pembatasan masalahnya berkisar pada “ Hubungan antara latar belakang  ekonomi orang tua dengan motivasi belajar siswa di SDN Empang 3 Kota Bogor
            Latar belakang   ekonomi orang tua adalah  kemampuan atau kecakapan orang tua dalam mendidik anak yang dilihat dari sisi ekonomi untuk  mendorong anaknya agar belajar belajar secara formal ataupun informal.
             Motivasi belajar siswa adalah dorongan belajar terhadap anak untuk melakukan proses belajar dan berlatih secara terus menurus serta dorongan tersebuat dapat dari dalam ataupun dari luar sehingga anak dapat melakukan pembelajaran dengan baik

D.        Perumusan Masalah
  Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut ” Apakah ada Hubungan antara latar belakang  ekonomi orang tua dengan motivasi belajar siswa di SDN Empang 3 Kota Bogor ”?

E.        Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat berguna sebagai :
1.         Secara keilmuan diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengkajian dan penelitian keilmuan khususnya mata pelajaran PKn.
2.         Mengembangkan wawasan, pikiran dan saran yang dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan  latar belakang  ekonomi orang tua dengan  motivasi belajar anak di SDN Empang 3 Kota Bogor.
3.         Bagi penulis mudah-mudahan dapat memperluas wawasan berpikir dalam memahami masalah pendidikan kewarganegaraan.










                                                   


[1] Undang-undang 1945, (Jakarta : Bineka Karya, 2001)  h.5
[2] Sri Partini, Menjalin hubungan keluarga yang baik,(Bandung, Pustaka, 2001) h.11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar