Rabu, 27 Juni 2012

Kajian Teoritis


BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR TINDAKAN

A. Landasan  Teori
     1.   Hakekat Metode Diskusi yang efektif
Metode adalah langkah atau cara yang telah diatur dan terpikir baik-baikuntuk mencapai suatu maksud dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya”[1] adapun arti yang dimaksud adalah satu cara atau langkah yang dilakukan dalam melakukan satu penelitian yang dapat diukur kebenarannya.Metode adalah cara ilmiah yang telah diatur dan hasilnya dapat diukur dan cara tersebut diakui karena keilmuannya”[2]. Cara yang ilmiah atau satu langkah penelitian yang dilakukan dalam penelitian sehingga penelitian tersebt dapat berfungsi atau berguna untuk kepentingan keilmuan yang ada.
Sebagai salah satu model pembelajaran, cooperative learning (pembelajaran  diskusi ) menekankan aktivitas kolaboratif peserta didik dalam belajar yang berbentuk kelompok kecil untuk mempelajari materi pelajaran dan memecahkan masalah”[3]. Dan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dirancang oleh guru untuk melaksanakan kegiatan mengajar dan bagaimana siswa belajar dengan efektif dan efesien.
“Diskusi kelas adalah suatu kegiatan yang melibatkan siswa dengan guru atau siswa dengan siswa yang lain untuk membicarakan atau menyelesaikan suatu topik permasalahan tertentu”.[4]  Sedangkan  strategi yang digunakan dalam diskusi di mana dalam suatu kelas dibentuk kelompok-kelompok yang memungkinkan siswa-siswa tersebut untuk saling berinteraksi, berbagi pendapat, tanya jawab, dan melakukan sesuatu bersama.
Pendekatan  kontekstual  merupakah  suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
“Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama”[5].
Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak  memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa,  memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya,  mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai, membantu siswa belajar berpikir secara kritis,  membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman,  membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah dan mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
Adapun kegiatan guru dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut : Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan atau guru meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan. Guru menjelaskan tujuan diskusi. Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai materi pelajaran yang didiskusikan. Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa serentak berbicara mengeluarkan pendapat. Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan. Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang berani dan berambisi menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari pokok/problem. Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah. Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan siswa. Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi pengatur pembicaraan.
Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas.  Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan. Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok. Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.  Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain. Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat. Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan.  Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat. Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi.  Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang.
Adapun kelebihan metode diskusi sebagai berikut : Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat.  Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data. .Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem bersama-sama. .Melatih siswa untuk berdiskusi di bawah asuhan guru. Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri, menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya. .Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat, kesimpulan, atau keputusan yang akan atau telah diambil. Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali. Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara. Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan, siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis. Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara, pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu problem akan bertambah luas.
“Metode diskusi adalah  suatu cara mempelajari materi pelajaran dengan memperdebatkan masalah yang timbul dan saling mengadu argumentasi secara rasional dan objektif”[6]. Cara ini menimbulkan perhatian dan perubahan tingkah laku anak dalam belajar. Metode diskusi juga di maksudkan untuk dapat meransang siswa dalam belajar dan berfikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya secara rasional dan objektif .
K elemahan  metode diskusi sebagai berikut:  Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu. Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi.  Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat. Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara. Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan, lebih rendah, remeh atau lebih bodoh.
Prinsip-Prinsip dalam diskusi melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi yang di adakan, diperlukan ketertiban dan keteraturan dalam megemungkakan pendapat secara bergilir di pimpin oleh seorang ketua atau moderator. Masalah yang didiskusikan dengan perkembangan dan kemampuan anak,  guru berusaha mendorong siswanya yang kurang aktif untuk melakukan atau mengeluarkan pendapatnya, siswa dibiasakan menghargai pendapat orang lain dalam menyetujui atau menentang pendapat.
 “Metode Diskusi sangat sesuai di gunakan bilamana  materi yang di sajikan bersifat yang tingkat kesempatanya rendah, untuk pengembangan sikap atau tujuan-tujuan pengajaran yang bersifat efektif”[7]. Untuk tujuan-tujuan yang bersifat analisis sistensis,dan tingkat pemahaman yang tinggi.
Keunggulan metode diskusi suasa  kelas menjadi bergairah, dimana para siswa mencurahkan perhatian dan permikiran mereka terhadap masalah yang sedanf di bicarakan.  Dapat menjalin hubungan antara individu siswa hinggaü menimbulkan rasa harga diri,toleransi demokrasi, berfikir kritis dan sistematis.  Hasil diskusi dapat di pahami oleh para siswa karena mereka secara aktif mengikuti perdebatan yang berlangsung dalam diskusi.
Kelemahan -kelemahan Metode Diskusi adanya sebagian siswa yang kurang bepartisifasi secara aktif dalam diskusi dapat menimbulkan sikap acuh tak acuh dan tidak ikut bertangung jawab terhadap hasil diskusi .
 Sulit meramalkan hasil yang ingin di capai karena pengunaan waktu yang terlalu panjang,  Para siswa mengalami kesulitan mengeluarkan ide-ide atau pendapat mereka secara ilmiah atau sistimatis.
Tugas-Tugas guru dalam diskusi dapat bertindak sebagai pimpinan dalam diskusi,  mengusahakan jalanya diskusi agar tidak terjadi dialog atau hanya sekedar tanya jawab antara guru dan siswa atau antara dua orang siswa saja. Sebagai moderator yang dapat megamankan, menolak atau menyampaikan pendapat dan usul-usul kepada peserta diskusi.
Langkah-langkah yang perlu di dalam pelaksanaan diskusi pemilihan topik yang akan di diskusikan, di bentuk kelompok-kelompok diskusi,
dan para siswa melakukan diskusi dalam kelompok masing-masing. Bentuk diskusi kelas di mana para peserta duduk setengah lingkaran.
Diskusi Kelompok: Diskusi yang terdiri dari 4-6 orang peserta. Bentuk diskusi ini terdiri dari kelas yang di bagi-bagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3-4 orang peserta.  Suatu bentuk diskusi yang terdiri dari 3-6 orang peserta untuk mendiskusikan suatu topik tertentu, dan duduk dalam bentuk semi melingkar. Dalam bentuk diskusi ini kelas di bagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 peserta,  dalam symposium biasanya terdiri dari pembawa makalah penyangah, moderator,dan notulis, serta beberapa peserta. Bentuk diskusi di bagi menjadi dua tim yang seimbang.
Diskusi ini terdiri dari beberapa orang peserta dan pimpinan oleh seorang ketua untuk mencari suatu keputusan.Bentuk diskusi ini akan dapat mendorong siswa agar lebih tertarik untuk berdiskusi dan belajar keterampilan dasar dalam megemungkakan pendapat.  Bentuk diskusi yang pesertanya terdiri dari 8-12 orang.
Metode diskusi mendorong siswa untuk berdialog dan bertukar pendapat, dengan tujuan agar siswa dapat terdorong untuk berpartisipasi secara optimal, tanpa ada aturan-aturan yang terlalu keras, namun tetap harus mengikuti etika yang disepakati bersama. Diskusi dapat dilaksanakan dalam dua bentuk. Pertama, diskusi kelompok kecil (small group discussion) dengan kegiatan kelompok kecil. Kedua, diskusi kelas, yang melibatkan semua siswa di dalam kelas, baik dipimpin langsung oleh gurunya atau dilaksanakan oleh seorang atau beberapa pemimpin diskusi yang dipilih langsung oleh siswa.
“Diskusi kelas dapat membantu untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran: (1) meningkatkan keikutsertaan dan kegiatan siswa dalam pelajaran dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyuarakan pendapatnya, (2) membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik dengan cara memberikan kesempatan untuk menyatakan pemikiran mereka, dan akhirnya (3) membantu siswa untuk meningkatkan kecakapan berkomunikasi.”[8]

                        Dalam diskusi kelas harus ada keikut sertaan siswa  yang aktif  dalam menyuarakan pendapat atau saran atau argumentasi dan itu harus dipacu terus sehingga siswa dapat aktif dalam berpendapat dengan siswa aktif berbicara maka akan jelas siswa akan lebih paham dengan apa yang dibahas saat itu, sehingga siswa lebih terampil dalam berbicara dan pasih dalam berkomunikasi
                        Berdasarkan teori diatas maka pendapat penulis tentang Metode diskusi yang efektif adalah cara penyajian atau penyampaian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar yang bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa.

      2.  Hakekat Meningkatkan  Sikap Nasionalisme

                          “Meningkatkan adalah memberikan pemahaman agar lebih baik dan lebih dimengerti dan professional.”[9]  Dalam  peningkatan ini bertahap atau secara terus menerus peningkatan tersebut dapat dirasakan atau awalnya siswa tidak tahu menjadi tahu dan apabila sudah mengetahuinya agar menjadi lebih paham dan mengerti sehingga menjadi professional.

Menurut Kendler “Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negative terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya”[10], sedangkan Gagne mengatakan “bahwa sikap merupakan suatu
keadaan internal (internal state) yang mempengaruhi pilihan tindakan
individu terhadap beberapa obyek, pribadi, dan peristiwa”[11]. Yang perlu diperhatikan adalah satu respon yang masih tertutup ataupun satu tindakan yang masih berupa perkataan yaitu berupa lisan dan respon tersebut juga dapat berupa tulisan atau sara pendapat melalui tulisan hal itu masih berupa lisan atau tulisan.
“Menurut Bimo Walgito bahwa yang dimaksud sikap adalah  “merupakan organisasi yang ber pendapat dan keyakinan seseorang terhadap suatu obyek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu sehingga memberikan dasar tertentu kepada individu untuk memberi respon/berperilaku dalam cara yang dipilihnya.”[12]

  Pengertian Attitude dan diterjemahkan dengan kata sikap terhadap objek tertentu.  merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap tersebut disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap objek yang tadi itu. Jadi attitude dapat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal. Dari berbagai pendapat tentang sikap tersebut diatas, dapat diketahui bahwa sikap merupakan bentuk keyakinan seseorang atau kepercayaan seseorang terhadap suatu obyek atau situasi tertentu aspek kognitif, yang disertai dengan perasaan positif atau negatif yang berupa rasa suka atau tidak suka, menerima atau menolak dan sebagainya aspek afektif. Semua ini akan menimbulkan kecenderungan bagi seseorang untuk merespon atau bertindak terhadap objek tersebut aspek konasi.
Sarlito Wirawan  membagi sikap dalam  tiga  bagian (domain). Ketiga domain sikap itu adalah kognitif, afektif dan konatif.” [13]  Yang dikuatkan oleh Bimo Walgito  bahwa sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap yaitu Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu yang berpengaruh dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.  Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berpengaruh dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.  Komponen konatif (action component), yaitu komponen yang berpengaruh dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.
Menurut Soekidjo Notoatmojo “Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek[14] Bahwa komponen sikap adalah  seluruh pikiran, pengetahuan, kepercayaan seseorang mengenai objek sikap. Dengan menempuh mata kuliah bimbingan dan konseling keluarga maka mendapatkan pengetahuan, pandangan, keyakinan mengenai bimbingan kemudian Komponen Afektif yaitu seluruh perasaan  seseorang terhadap objek sikap.

Sign up

Use your Facebook login and see what your friends are reading and sharing.

Other login options

    Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.
    Hal ini perlu diperhitungkan karena seseorang cenderung untuk berperilaku sebagaimana lingkungan melihat dan mengharapkan ia berperilaku. Apalagi  melihat bahkan mencap seseorang itu sebagai orang tidak sikap nasionalisme , maka akhirnya ia akan berperilaku tidak sikap nasionalisme .     Muray mendefinisikan prestasi sebagai berikut Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin”[15].oleh karena itu siswa dituntut setiap harinya untuk melatih dan belajar sehingga apa yang dilakukan akan menjadikan satu kebiasaan yang baik dan satu kebiasaan yang cenderung positif, sehingga apa yang diharapkan dapat menumbuh kembangkan perilaku sikap nasionalisme  yang tinggi.
Konsep sikap nasionalisme  berkaitan dengan tata tertib, aturan, atau norma dalam kehidupan bersama (yang melibatkan orang banyak). Moeliono   mengemukakan bahwa “sikap nasionalisme  adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya”[16]. Pendapat tersebut juga untuk memupuk perilaku sikap nasionalisme  yang kuat karena ketaan atau kepatuhan tersebut bagian dari sikap nasionalisme  yang ada untuk ditingkatkan prestasinya karena dengan melatih dan terus menerus maka perilaku sikap nasionalisme  tersebut menjadi kebiasaan yang baik atau adanya satu pembiasaan terhadap satu aturan yang sudah baku karena sering dilatih maka sikap nasionalisme   tersebut tidak merasa berat dilakukan atau dikerjakan karena bagian dari sesuatu yang diharapkan semua pihak,  oleh karena itu untuk meningkatkan perilaku sikap nasionalisme  salah satunya dengan cara membiasakan perilaku atau tingkah laku yang baik sehingga menjadi satu pembiasaan.
 Robert mejelaskan bahwa, “nasionalisme  menimbulkan gambaran yang amat keras kepada bangsa Indonesia dan  bayangan tentang menjaga nama baik bangsa, pembalasan dan bahkan kesakitan. Pada sisi lain,"sikap nasionalisme " mengacu pada usaha membantu orang lain melalui pengajaran dan pelatihan.”[17].  hal yang terpenting dalam nasionalisme itu adalah satu perasaan yang banggsa atas bangs Indonesia serta mempuyai perasaan tentang tumpah darah Indonesia.
Pada zaman sekarang, sudah  banyak anak muda yang nantinya akan memimpin Negara kita yang tercinya ini yang tidak memiliki sikap nasionalisme pada diri mereka. “Sikap nasionalisme dapat tumbuh, jika ada kesadaran pada diri masing-masing individu .”[18]. proses atau hasil pengarahan atau pengendalian keinginan, dorongan atau kepentingan demi suatu citat-cita bangsa,  pencarian cara-cara bertindak yang tepilih dengan gigih, aktif dan diarahkan sendiri dengamn memiliki rasa bangga atas anak indonesia,  pengendalian perilaku murid selaras dengan jiwa kepahlawanan,  secara positif mengakui atas bendera merah putih
“Sikap nasionalisme  adalah  suatu sikap konsisten dan sudah menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang dalam melakukan sesuatu serta mempuyai nilai yang tinggi sehingga apa yang dilakukan  serta dijadwalkan tepat waktunya”[19].Adapun menurut Soemantri sikap nasionalisme  adalah “pembiasaan seseorang dalam melakukan kegiatan dengan teratur, terarah serta terjadwalkan sehingga kegiatan yang dilakukan selesai tepat pada waktunya dengan hasil yang baik ”. [20]
Sikap nasionalisme  dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata tertib) yang berkaitan dengan bangsa indonesia dan diimplementasikan di sekolah Dalam bidang bimbingan sosial yang memungkinkan siswa memperoleh kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang di alami melalui dinamika kelompok, yaitu masalah-masalah yang berkenaan dengan pemahaman dan pelaksanaan sikap nasionalisme  dan peraturan sekolah yang diterapkan sehingga aturan yang diberlakukan dapat berjalan lancar dan baik. Dengan sikap nasionalisme  yang tinggi dan kuat maka akan membentuk satu  keinginan dalam belajar serta akan memacu prestasi yang didapat.
Pengertian sikap nasionalisme sendiri adalah “sikap cinta tanah air, yang artinya mereka mencintai dan mau membangun tanah air menjadi lebih baik“[21].. Sikap Nasionalisme harus dimiliki oleh setiap warga Negara, sebab dengan adanya sikap cinta tanah air, mereka dapat menjaga dan melindungi Negara kita dari ancaman dalam bentuk apapun.
Bahwa ada  beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan sikap nasionalisme  siswa antara lain Peraturan dan tata tertib sekolah perlu senantiasa disosialisasikan melalui setiap kesempatan dapat pada media yang dapat dimanfaatkan, misalnya: majalah dinding, upacara penaikan bendera pada saat  mengajar dan lain-lain, Pembina sikap nasionalisme  secara individual oleh wali kelas maupun secara kelompok oleh guru BP,  adanya tindakan yang seragam dari para guru. Hal ini dimaksudkan agar sikap nasionalisme  menjadi budaya sekolah yang mendarah daging karena tindakan indisipliber tidak akan ditoleri oleh siapapun,  administrasi piket perlu ditindak lanjuti. Data-data yang dikumpulkan seperti angka keterlambatan, ketidak hadiran dapat ditabulasikan atau dibuat grafik sehingga dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembinaan sikap nasionalisme .
“Sikap nasionalisme dapat diamalakan tidak harus dengan ikut menjaga di perairan atau diperbatas seperti Para TNI[22]. Tapi, bagi para anak muda dan pe lajar mereka dapat mengamalkannya melalui kegiatan yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Contohmya : Bagi para pelajar, mereka harus rajin belajar, agar kelak mereka berguna bagi bangsa dan tanah air kita yang tercinta ini, menggunakan produk dalam negeri , kita harus yakin bahwa produk-produk negera kitapun tidak kalh dengan produk-produk luarnegei,dsb
Menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan sebagai seorang yang terpelajar tentu kita tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang bertentangan dengan hukum dan juga kita tahu konsekuensi yang harus kita hadapi jika kita melanggar aturan hukum.
Sikap Nasionalisme “berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional[23].  Semua warga Negara berhak untuk ikut aktif dalam paembangunan nasional. Pembangunan Negara Indonesia tidak saja dilakukan oleh pemerintah, tapi semua lapisan masyarakat. Bahkan seorang pelajar pun dapat ikut melaksanakan pembangunan. Contoh kecil yang dapat kita lakukan untuk membantu pembangunan Negara adalah dengan ikut pemilu, karena dengan ikut pemilu kita dapat mimilih seorang pemimpin yang dapat membawa negara ini ke arah yang lebih baik.
“Sikap Nasionalisme merupakan salah satu kegiatan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar[24]. Musibah banjir terjadi dimana-mana, hal ini disebabkan kurang sadarnya masyarakat dalam hal kebersihan, khususnya dalam hal pembuangan sampah. Pembuangan sampah yang sembarangan dapat menyebabkan tersumbatnya saluran air atau selokan yang mana hal tersebut dapat menyebabkan air meluap dan terjadilah banjir. Untuk itu marilah kita tingkatkan kesadaran kita akan pentingnya pembuangan sampah pada tempatnya. Hal ini dapat kita mulai dari sekarang dan dapat kita lakukan dari lingkungan sekitar kita baik di rumah, kampus ataupun di tempat-tempat lainnya.
“Sikap nasionalisme adalah  menciptakan kerukunan umat beragama[25]. bahwa Negara kita terdiri dari berbagai agama yang dianut warga Negara Indonesia. Tapi hal itu bukanlah alasan untuk warga Negara untuk tidak saling hidup rukun. Setiap warga Negara dituntut untuk saling menghormati dan menghargai orang lain walaupun berbeda agama agar tercipta kehidupan yang rukun dan harmonis.
 “Sikap nasionalisme dapat memelihara nilai–nilai positif yatu hidup rukun, gotong royong, dll”[26]. Manusia merupakan mahkluk social yang mana kita tidak dapat hidup secara individu atau tanpa bantuan orang lain. Dalam hal menciptakan kerukunan dan juga untuk memajukan Negara Indonesia kita haruslah bekerja sama dan saling bahu membahu.
“Nasionalisme luas (positif), adalah  sikap memperjuangkan dan sikap memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan mempertahankan kemerdekaan serta harga diri bangsa sekaligus serta harga diri bangsa sekaligus menghargai bangsa lain”[27]. Adapun sebaliknya  nasionalisme sempit (negatif),  Sikap sombong, bangga terhadap  Sikap sombong, bangga terhadap  bangsanya sendiri dan tidak  bangsanya sendiri dan tidak  menghargai bangsa lain.
Menurut Ernest Renan” Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara”[28].  Suatu  negara kebangsaan akan menjadi kuat bila timbul nafsu untuk mengembangkan negaranya. Nafsu untuk berkuasa itu mendorong negara tersebut memperkuat angkatan perang. Bila telah merasa diri mereka kuat, maka berbagai alasan dicari-cari sehingga bisa timbul penjajahan yang sesungguhnya. Semangat dan nafsu untuk berkuasa atas bangsa lain ini merupakan salah satu sebab adanya kolonialisme dan imperialism.
Menurut Otto Bauar “ Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib“[29]  Makna Nasionalisme secara politis merupakan manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Kita sebagai warga negara Indonesia, sudah tentu merasa bangga dan mencintai bangsa dan negara Indonesia. Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain.
Menurut Hans Kohn” Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness,  formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri”[30]. Nasionalisme berhubungan dengan penemuan identitas nasional. Kesadaran akan identitas nasional ini dapat dipicu oleh letak geografis, misalnya sekelompok masyarakat hidup dalam sebuah wilayah yang sama menyadari keberadaannya sebagai satu bangsa. Ini mirip kesadaran sebagai keluarga besar. Tapi, kesadaran akan identitas nasional juga bisa lahir karena pengalaman pahit tertentu yang dialami secara bersama, meskipun masyarakat tidak hidup da-lam satu wilayah geografis yang sama. Inilah yang dialami oleh bangsa Indonesia. Pengalaman dijajah Belanda selama ratusan tahun telah melahirkan kesadaran akan identitas diri dan identitas nasional yang ingin melepaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme apapun. Tentu kesadaran akan identitas sebagai bangsa ini tidak lahir secara mendadak. Meskipun secara geografis Indonesia memiliki ribuan pulau dan ratusan ribu suku bangsa, interaksi ma-syarakat di Nusantara sejak perdagangan antarpulau dan antarbenua di sekitar abad ke-4 dan ke-5 masehi sampai masa-masa kejayaan kerajaan-kerajaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan bagian dari proses pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Dari situlah identitas nasional Indonesia dirumuskan. Bahwa masyarakat yang mendiami wilayah di kepulauan Nusantara, meskipun beranekaragam, mereka tetaplah satu
Menurut L. Stoddard  “ Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa”[31]. Dalam arti ini, nasionalisme Indonesia yang lahir sejak tahun 1928 memang lebih bersifat nasionalisme politik. Artinya, kesadaran sebagai bangsa Indonesia yang diikrarkan para pemuda pada hari Sumpa Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan sebuah kesadaran politik untuk menggalang persatuan demi mem-perjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mohammad Yamin benar menyebut, bahwa nasionalisme Indonesia pada saat kelahiran Budi Utomo (10 Mei 1908) bersifat nasionalisme kultur. Nasionalisme kultur bangsa Indonesia sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak abad perdagangan antarpulau di era abad ke-4 dan ke-5 masehi dan mencapai puncak pada zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Pada prinsipnya nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa : menempatkan persatuan – kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan; menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara; bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri; mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa; menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia; mengembangkan sikap tenggang rasa; tidak semena-mena terhadap orang lain; gemar melakukan kegiatan kemanusiaan; senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan; berani membela kebenaran dan keadilan; merasa bahwa bangsa Indonesia merupakan bagian dari seluruh umat manusia; dan menganggap pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa.
Menurut pendapat penulis ” meningkatkan sikap nasionalisme adalah menjadi lebih baik lagi dari yang sebelumnya tentang tindakan, perbuatan ketaatan atau kepatuhan kepada siswa tentang kebangsaaan atau kebanggan atas negara bangsa Indonesia dengan perujudan rajin belajar, belajar bersungguh sungguh, serta berbudi luhur dan budi pekerti yang tinggi sehingga dunia dapat melihat bangga terhadap bangsa Indonesia dan bangga terhadap anak negeri ibu pertiwi.

   B.    Kerangka Pikir Tindakan
Metode diskusi yang efektif adalah cara penyajian atau penyampaian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar yang bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa.
Meningkatkan perilaku sikap nasionalisme   siswa adalah  menambah atau memberikan pemahaman yang kepada kepada ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma yang   menimbulkan gambaran yang amat keras, bayangan tentang hukuman, pembalasan dan bahkan kesakitan, proses hasil pengarahan, pengendalian keinginan, dorongan atau kepentingan demi satu cita-cita.
Adapun kondisi awal sebelum metode diskusi yang efektif  tersebut dilaksanakan adalah  rendahnya perilaku sikap nasionalisme  siswa saat masuk kelas di pagi hari atau saat jam istirahat, belum optimalnya siswa dalam tindakan sikap nasionalisme  yang dilakukan disekolah sehingga merasa terganggu apabila pelajaran sudah dimulai sedangkan siswa setiap harinya ada yang terlambat, belum maksimalnya siswa dalam belajar sehingga prestasi yang diharapkan belum memenuhi stsndar serta fakta dilapangan masih kurangnya kesikap nasionalisme an siswa dalam memenuhi pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah.
Namun setelah dilakukan metode  diskusi yang efektif  maka ada peningkatan pada  perilaku sikap nasionalisme  siswa saat masuk kelas di pagi hari atau saat jam istirahat sudah tidak terlambat lagi, sudah ada peningkatakan  dalam tindakan sikap nasionalisme  yang dilakukan disekolah sehingga merasa tanggung jawab akan  pelajaran PKn karena dibebankan pekerjaan rumah,  sudah ada peningkatan dalam belajar sehingga prestasi yang diharapkan memenuhi standar yang diinginkan oleh sekolah.
Metode diskusi yang efektif adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan memecahkan masalah dengan bekerja kelompok atau berdiskusi  atau metode mengeluakan pendapat untuk memecahkan masalah dengan kebersamaan dalam pekerjaan rumah dengan tujuan agar lebih meningkatkan perilaku sikap nasionalisme  siswa di rumah dan sekolah, maka penelitian ini untuk meningkatkan perilaku sikap nasionalisme  siswa melalui metode resitasi
Setelah  dilaksanakan Metode diskusi yang efektif sebagai solusi pemecahan masalah di SMP Negeri 6  Kota Bogor, di bidang sikap nasionalisme  maka diharapkan akan terjadinya perubahan perilaku sikap nasionalisme  siswa. Dan kondisi yang diharapkan adalah perilaku sikap nasionalisme  siswa menjadi patuh, taat kepada peraturan tanpa tekanan atau paksaan dari guru, tetapi dengan penuh kesadaran siswa masing-masing.




[1] Budiono, Metode Kerja kelompok Siswa (Jakarta, CV Pustaka, 2005) h.234
[2] Moch Nasir, Metode Penelitian (Jakarta, Balai pustaka, 2003)h.231
[3] Asep Gojwan. . Pengembangan Model Pembelajaran Jigsaw pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SLTP(Jakarta ,Ganesha, 2004) h. 1

[4] Soegijo, Pembelajaran diskusi yang baik dan efesien  (Jakarta, Pusaka Ilmu, 2000) h. 15
[5] E Mulyasa, Metode- metode dala pendidikan,  (Jakarta, Multi Media, 2003) h. 16
[6] Marion J. Rice. Modul-modul Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Kurikulum dan Pengajaran.( Malang: P3TK, 2002) h. 12
[7] S Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta, Bumi Aksara, 2010) h.60
[8] Daniel Muijs, Efektifnya pembelajaran (Jakarta, PT. Karya Pustaka , 2001) h. 25
[9] Budiono,Kamus Bahasa Indonesia,Jakarta, Bintang Indonesia, 2005, h.h231
[10] Kendler,Attitude (Jakarta, Pustaka, 2000)p.74
[11] Gegne, Attitude (Jakarta, Pustaka, 2000)p.79
[12]Bimo Walgito, Sikap dalam berorganisasi, (Jakarta, Bintang Indonesia, 2001) p.110
[13] Saliro Wirawan, Kompetensi (Jakarta, Karya, 2002)p.234
[14] Soekidjo Notoatmojo, Sikap dan peilaku(Jakata, Yudistira,2003) p.124
[15] Muray, Motivasi belajar dan prestasi (Jakarta, Gramedia, 2000) h.290
[16] Moeliono, Sikap nasionalisme Siswa  (Jakarta, Bintang Indonesia,2007)h.34
[17] Robert, Sikap nasionalisme Siswa  (Jakarta, Bintang Indonesia,2007)h.40
[18] Sutisna, Sikap nasionalisme Siswa  (Jakarta, Bintang Indonesia,2007)h.50
[19] E Mulyana, Disiplin, (Jakarta, Yudistira, 2001)h.44
[20] Soemantri, Sikap nasionalisme  siswa (Jakarta, Karya Ilmu, 2001)h.109
[21]Depdiknas,  Sikap nasionalisme  siswa (Jakarta, Penerbit, 2001)h : 29
[22] Suharman, Sikap nasionalisme (Jogyakarta, Karya Media, 2006) h.9
[23] Alex S Nitisemito, Sikap nasionalisme (Jakarta, PT Perkasa pratama, 2004) h.10
[24] T.hani Handoko, Kinerja karyawan (Jakarta, Pratama, 2004) h 12
[25] Djajulianto M.A.J, dkk, Masalah Penanggulangan dan Pembinaan Kenakalan Remaja atau Premanisme, (Jakarta : Ariet Printing dan Mutiara Agung, 2005), h.135
[26] C.S.T Kansil, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan , (Jakarta : Erlangga,1995), h.45
[27] Depdiknas, Disiplin, (Jakarta, 2001)h. 7.
[28] Ernes Renan, Sikap nasionalisme  siswa (Jakarta, Penerbit, 2001)h.109
[29]Oto Buar, Sikap nasionalisme  siswa (Jakarta, Penerbit, 2001)h : 29
[30][30] Hans Khn, Jiwa Nasionalisme,  (Jakarta, Erlangga, 2006) h. 67
[31] L. Stoddard, Nasionalisme, (Jakarta, Multi Media Pustaka, 2006) h. 66

Tidak ada komentar:

Posting Komentar